Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Desember 2013

My RPP (Cerbung)




            Ini  hari  ke 3 di  Minggu  ke  2 di  bulan September. Aura pagi  masih  enggan menampakkan cerianya, tapi pagi ini  air  memaksakan  untuk  mengguyur tubuh  Ayla untuk beraktifitas pagi. Suara adzan membelalakkan  matanya  untuk bergegas  mempercepat gerakan  dan  pergi  ke mushola. Selepas sholat subuh  Ayla seperti biasa menyapa setiap sudut rumahnya  untuk  dijaga  supaya tetap bersih. Bumbu dapur yang  siap diolahpun sudah  siap menanti.
            “ Kenapa semua  jadi  ribet  begini  ya,” gumam Ayla dalam hati
            “ Kenapa  Ay?”
            “ Ndak  biasanya bu, Ayla terburu-buru seperti ini”
Iya  memang  pagi ini  Ayla  sudah  memulai  aktivitas Praktek Pengabdian Lapangan bahasa kerennya  PPL. Maklumlah  sebagai  mahasiswa  semester 7 Fakultas Ilmu  Pendidikan Ayla  wajib mengikuti  kegiatan ini. Belajar  menjadi  guru  mungkin itu  lebih  tepat lagi. Karena  mahasiswa  nantinya  akan  dihadapkan langsung  pada kondisi  mengajar  yang  sebenarnya, bukan hanya  teori. 
Hari – hari  Ayla  yang  biasanya  pekerja  kantoran,  sekarang  harus  banting  setir menjadi  seorang pengajar. Semua  terasa berubah, jam  di dindingpun  berjalan begitu  cepat  bagi  Ayla. dikerjakan lebih cepat  1 jam. Biasanya  masuk jam kantor jam 8, sekarang  jam 6.30 harus  sudah  start berangkat.
             Led  BB menyala merah “ Nanti  jam 6.30 tepat saya tunggu di pertigaan Jalur Lintas Barat J  Azriel”
            “Baik Mas  Azril, saya  konfirmasi yang  lain juga trims”
Begitu  kira-kira  sms  pemberitahuan  dari  salah  seorang  anggota  PPL yang  lain. Jam  di dinding sudah  menunjukkan  pukul  6.05. Lima  belas menit  persiapan dan  sepuluh  menit  persiapan rasanya  mustahil  buat  Ayla. Sarapan  di  meja belum  sepenuhnya  tertata rapi, Ibu  Ayla  yang notabene  juga  seorang pengajar pastinya  memiliki waktu  yang  singkat  dipagi hari, Karena semua  aktivitas pagi  lebih  banyak  di  handle  Ayla. Mungkin  sama  dengan  yang  lain, semuanya  hanya  butuh  adaptasi. Secepat  kilat Ayla  mengambil langkah  seribu,  di  jarum jam 6.25 sembari  mengirim pesan  singkat ke  teman-teman yang  lainnya.
            “Huft… Ayla  ndak telat kan”
            “Hmmm  Ay, rasanya  sudah  mau  kutinggal saja” (Vita  salah  saorang  teman  dari  satu  fakultas Ayla memasang  wajah  muram)
            “Iya  iya  maafin Ayla,  kan  aku  masih adaptasi  dengan jarum jam”
            “Ayla  kalau pagi mah  jadi  inem  dulu Vit” timpal Dini yang  memang sudah  sudah  tau  keseharian  Ayla
            “Sudah ay,  bercanda kok lagi pula  Mas Azriel juga  belum nampak”
            “Assalamu’alaikum………..”
            “Panjang  umur  Pak  Guru  ini, baru  saja  diomongkan ee tiba-tiba  muncul”
            “Ya   sudah, semua sudah  lengkap kan?” pungkas  Azriel yang tak jarang  dipanggil Pak  Guru  oleh  teman-temannya.
            “Loh, kita  kok  cuma  ber  tujuh, lah yang  empat  kemana  Pak?”
            “Sudah Ay, mereka  nanti  menyusul lewat jalan utara”
            “Ya  Sudah let’s go  lah”
Mereka  semua mengikuti  jejak  roda Mas Azriel, karena baru  pertama kali datang ke  Sekolah  ini. Kebetulan  pula  Maz Azriel  salah  satu  pengajar  di  sekolah  itu, jadi  beliau rela  menjemput  anggotanya  untuk  bisa  sampai ke lokasi. Kedengarannya lokasinya  tak  begitu jauh dari  tempat  kita berkumpul tadi.   Ayla  yang  pribumi  saja  belum pernah  datang  ke daerah itu, meski  sering  terkenal  dengan produk  Tape nya, Eits jangan salah sangka dulu ini  cuma  perkara  istilah “Tape” yang  dimaksud bukan  elektronik  lo, melainkan sejenis makanan yang  terbuat  dari  singkong  yang  di beri  ragi lalu  disimpan beberapa hari. Sudah jangan tanya  lagi apa itu  ragi, nanti  dibrowsing  saja ya.. hehe.
            Dalam  batin  Ayla  berdecak kagum, ternyata di  kota Kepanjen  masih  ada ya daerah  yang  masih  asri  begini. Terlalu  banyak  berkutat dengan tumpukkan perkerjaan kantor  hingga lupa rasanya  jika seseorang  itu  butuh  udara  sejuk seperti ini. Seperti berada  di  pegunungan, menuruni  jurang tajam berkelok, tepat  di bawah  jembatan jalur lintas barat. Kanan kirinya  tersandar  pepohonan yang tertanam acak, bukan tanpa pemilik tapi semua terlihat alami.
            “Nyamannya, Subhanallah…”
Meski jalannya sudah  berupa aspal, namun banyak  kerusakan  di  badan jalan sehingga  harus hati-hati ketika melewatinya. Semakin  ke bawah, lintas arus  sungai semakin jelas menambah nyaman  dalam perjalanan meski harus  pasang mata supaya  tidak terperosok. Mas Azriel  sudah  terbiasa dengan jalan  berkelok ini, dengan santainya  naik turun  badan jalan seolah  jalan lurus saja. Ayla , Vita,  Dini  dan yang  lain  mengekor pelan, tak jarang  operan persneleng harus di  tekan mendadak ketika jalanan naik, sehingga pengendara yang  lain  dibelakang  harus siap pasang rem. Tiga  belokan sudah cukup bagi  kami mengingat suasana ini.
            “Pak Guru…. Masih  jauh  kah? Masih  ada jurang  lagi  tak?” Suara Vita  cetar, karena dia yang  sedikit  kalang  kabut  mengendalikan  laju motor mio yang  notabene  sering  selip.
            “Sudah  dekat kok, tenang saja”
            “Ay…. Kamu  diam saja, nggak takut”
            “Apa Vit? Aku  ndak  dengar? Sudah  nanti saja bicaranya”
Kebetulan semua  membawa motor sendiri-sendiri  jadi   tidak  ada yang  berboncengan. Menikmati  sendiri  rupanya sudah  terbiasa bagi  Ayla, terlalu  banyak  hal yang membuat  dia  tetap bertahan  tapi  hanya  ada  satu  alasan kenapa dia  bertahan untuk  selalu tersenyum.
Perjalanannya  hanya  butuh  waktu  10 menit  dari lokasi  bertemu  tadi, tapi bagi Ayla menikmati  susasananya  berasa sehari, terasa nyaman, sejuk, dan damai.Kepenatan  ruang  kerja dan suasana  kota  terasa diawang. Menjadikan satu  romansa baru  di ujung  jalan  bukit ini, tak terasa sudah  sampai di lokasi. Senyum  Ayla  selalu  mengembang  seperti biasa, cuma  pagi ini  semakin cerah  dengan aura  wajah  yang  lebih  berseri.
            RA, MI, MTs. Darrul Falah begitu kita  masuk sudah  disambut  dengan banner  penerimaan siswa baru  Darrul Falah  Th. 2012/2013. Seperti namanya  tiga  tingkatan  berada dalam satu  sekolah, semua beranggapan areanya  lahannya  luas  dengan beribu-ribu  siswa  disana. Tidak nampak berbeda  dengan suasanya  sekolah  lainnya  yang  gaduh  di  pagi  hari. Para  siswa masih  berlalu  lalang di  lokasi  halaman sekolah  yang  sebesar  lapangan bola volley. Tak  terlalu  besar seperti  bayangan orang – orang  , sekolah yang  berbasis  madrasah  ini memiliki bangunan bertingkat dua. Tingkat  pertama  untuk siswa  Madrasah Ibtidaiyah dan tingkat  kedua  untuk  ruang  Madrasah Tsanawiyah yang  nantinya  Ayla  dan teman – temannya  tempati. Tempat  parkir  berjajar  rapi di  halaman sekolah, tepat  di depannya  ruang  guru  MI, sebagian  orang  bercengkrama di sisi jendela, banyak  mata  memandang  dari kejauhan tak terkecuali  ibu-ibu  penjual jajanan. Seperti orang asing  yang  masuk di  lingkungan asing  pula. Jaket  almamater ini  memang  khas  dengan mahasiswa, corak coklat  mudanya menambah  penawaran baru  dalam pndangan. Di depan halaman yang terbentang  sawah  menyisir lukisan  matahari yang  menambah  cerah  suasana Madrasah. Dipojok  kanan dan kiri terdapat tangga yang  masih  setengah  jadi, dengan  hiasan  bata alami berjajar  di  setiap  tingkatan tangga.
            Di pojok  tangga  teman-teman lain  sudah  berkumpul, mata  Ayla  masih bersemangat  menyeruak  sekeliling halaman. Pandangannya tak  terlepas dari  rasa nyaman. Sudah  lengkap semua  sebelas  orang  (Mas Azriel, Ayla, Vita , Dini, Bu  Budi, Bu Sulis, Utari, Agung, Agus, dan Ani),  telihat  saling  berjabat  tangan  mengenal satu sama  lain, karena sebagian orang baru  bertemu  hari ini.
            “Selamat  datang  di MTs. Darul  Falah” Selayaknya  guide  Mas Azriel mempersilakan menaiki anak  tangga.
            “Ow,  jadi di  atas sini  MTs.,  trus  di bawah  tadi  ada tulisan  RA?”
            “Kebetulan lokasi  RA sudah  dipindahkan di  gedung  sebelah  mbak,  jadi disini tinggal 
              MI dan MTs.”
            “Bu Budi  semangat  banget  naik tangganya’
            “Sudah  Vit, No  comment. Ini  belajar  pake  rok soalnya keburu  nyrimpet. Haha”
Obrolan singkat  ke  lantai  dua  itu  menambah  keakraban mereka  yang baru saling  kenal. Lantai  dua  sudah  beralas keramik putih  bersih. Tepat di pojok kiri atas mirip banget  ya  sama identitas  di  kertas  ujian suara  halus  menyapa segerombolan mahasiswa  muda, Seorang  berparas  manis  berjilbab biru setengah  abu-abu khas  Madrasah menyambut mereka  dengan ramah. Dijabatnya satu  persatu,  seraya  mempersilakan duduk. Sofa  coklat  emas  di  pojok kanan depan  ruangan dengan ornament  meja  guru yang  ditata berjajar tiga  baris. Ruangannya  tak  begitu  besar, tetapi  cukup  multifungsi untuk semua  pengajar  disana. Di  sudut  lemari  kaca  ada beberapa hasil karya  murid berupa lukisan  kendi – kendi dari tanah liat, menambah  corak manis ruangan  yang selebihnya  ada  beberapa  buku  yang  tertumpuk tertata sekedarnya.
            “Ay, kok  bengong  sih?”
            “Hah…. (melongo), kenapa Bu Budi… Iya tadi siapa namanya ya?”
            “Hmm, Lah piye to cah iki ngelamun wae”
            “Yak an ndak sengaja bu”
Memang dari raut muka Ayla, seolah menyimpan sebuah pertanyaan besar? Dipandangnya sekeliling setiap sudutnya seolah tak lepas dari pandangannya. Sesi perkenalan yang sedikit di lewatkan Ayla, Bu Saima nama guru berparas manis tadi. Beliau memberikan sedikit wejangan sebagai ceremonial penerimaan mereka.
            Sedikit tersibak di bayangan Ayla, rasa nyaman yang kembali muncul dan rasanya seolah dejavu melihat setiap riuh angin yang  berhembus ke dalam ruangan itu.
            “Ah mungkin hanya bayangan saja” Ayla membatin keras dalam hati.
Apa? Kenapa? Dimana…. Seolah sudah tak asing lagi, tapi Ayla menepis semua pemikirannya, me refresh ulang dan kembali di dunia nyata. Apa yang berpendar di pikiran Ayla sedikit mengganggu.  
            Kamuflase bayangan semu yang merong-rong otak Ayla dinetralisir dengan segelas aqua yang sengaja disiapkan untuk mengguyur dahaga. Tak terasa pertemuan hari itu menjadikan planning panjang selama dua bulan kedepan, banyak hal yang sudah dibicarakan untuk sebuah program andalan. “Be a good teacher”. Semua berpamitan tanda perhelatan symbol selamat datang telah usai. Setelah keluar dari sekolah semua berakhir dengan obrolan santai di  kedai kecil “Wang Sen” sembari menyantap sepiring nasi goreng “Pattaya” , dan nasi goreng kerang terfavorit. 

to be continue.................
Read Comments

Selasa, 11 Desember 2012

Simulasi Pernikahan


Setelah Kau Menikahiku 8
(Pernikahan Simulasi Part 8)

Pernikahan Simulasi Bagian 8

Aku hanya mematung di luar jendela menyaksikan kemesraan mereka berdua.Saat itu juga mendung di langit yang tadinya terbentang kokoh di angkasa akhirnya runtuh juga. Membasahi bumi, membasahi hati dan menyamarkan air mataku yang tanpa sadar setetes dua tetes menitik di pipi demi kekecewaanku saat ini. Kekecewaa
n atas pengkhianatan yang terjadi di depan mataku sendiri.

Jelas sudah sekarang semuanya. Jelas sudah jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku akhir-akhir ini. Seperti keyakinanku dulu semua lelaki memang brengsek. Tak terkecuali Idan yang dulu aku anggap beda ternyata sama saja dengan yang lain.

Aku pun berlari menembus hujan yang begitu deras menuju tempatku parkir mobil tadi. Aku tidak menghiraukan ketika seorang petugas cleaning service mengejarku untuk menawariku payung. Aku hanya ingin segera pergi dari tempat itu sekarang!

Begitu sampai di mobil, cepat-cepat kunyalakan dan kusetir dengan terburu-buru. Di jalanan kukebut mobilku biar segera sampai di rumah. Aku tidak mempedulikan teriakan-teriakan pengendara-pengendara lain yang kusalip dengan ugal-ugalan.

Sesampai di rumah kubuka pintu, kubanting tanpa menutupnya kembali. Saat sampai ruang tengah dan kulihat foto pernikahan kami berdua, aku ambil dan kubanting sampai hancur berkeping-keping. Setelah itu aku ke kamar dan membenamkan wajahku ke bantal. Aku menangis sejadi-jadinya.Menangisi kebodohan, kenaifan dan ketololanku selama ini.

***

Aku menangis sampai ketiduran. Dari luar samar kudengar suara mobil. Idan sudah pulang. Bersiaplah untuk prang besar Dan!

Aku keluar dari kamar dan menunggunya di ruang tengah tempat biasa kami nonton tivi. Aku duduk di sofa seolah aku sudah menunggunya berjam-jam disana.

Saat Idan sampai di ruang tengah dia terkejut ketika menemukan foto pernikahan kami yang berukuran satu kali satu setengah meter itu hancur pecah berserakan di lantai.

“Apa-apaan ini? Ada apa Pit? Kenapa foto ini bisa hancur seperti ini?” tanyanya heran.

“Aku yang menghancurkannya! Kenapa? Kamu gak suka? Ini seperti halnya kamu menghancurkan pernikahan kita Dan!” jawabku menantang.

Inilah kali pertamaku berbicara lagi dengannya setelah sekian lama kami saling mendiamkan. Entah aku dapat energy dari mana hingga aku kembali berminat untuk bertengkar hebat dengannya.

“Apa maksutmu aku menghancurkan pernikahan kita? Bukankah kamu yang mulai semua ini? Kamu yang mulai mendiamkanku sehingga hubungan kita renggang selama ini?” jawab Idan tidak terima dengan tuduhanku.

“Kamu pikir aku mendiamkanmu itu tidak ada penyebabnya? Penyebabnya adalah kamu sendiri Dan! Kamu egois! Mikirin diri sendiri!”

“Aku egois? Sisi mana dari diriku yang egois? Apa kamu pikir kamu sendiri tidak egois? Aku dah banyak mengalah buatmu Pit!”

“Memang biasanya orang egois tidak menyadari keegoisannya sendiri Dan! Termasuk kamu! Kamu yang meninggalkanku di saat aku butuh dirimu! Hingga pada akhirnya aku mengalami keguguran karena stress itu juga gara-gara kamu!” aku sudah mulai kalap.

“Dan satu hal lagi! jika dirimu juga kecewa padaku dan menginginkan berakhirnya pernikahan kita kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin?”

“Apa maksut kamu Pit? Jangan bicara sembarangan!” Idan mulai bingung.

“Kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi dariku jika kamu punya wanita idaman lain? Jangan kira aku tidak tahu Dan! Aku sudah tahu semuanya!”

“Aku…” Idan seperti tercekat dan tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Bisa kujelaskan. Begini..”

“Udahlah Dan semua sudah jelas. Aku tidak butuh penjelasan lagi darimu. Semuanya dusta dan aku sudah muak dengan semuanya.”

Aku meninggalkannyasendirian di ruangan itu. Aku ke kamar dan membereskan barang-barangku. Aku mau pulang ke rumah ibu.

“Mau kemana kamu?” Tanya Idan saat dia masuk kamar.

“Apa pedulimu aku mau kemana? Aku mau pulang ke rumah ibu. Puas?”

“Kamu tidak perlu pergi dari rumah seperti ini. Biar aku saja yang pergi.” Kata-kata Idan lebih melunak kali ini. Aku tidak menghiraukan kata-kata terakhirnya saat kemudian dia telah keluar dan meninggalkan rumah dengan mobilnya.

Aku tidak peduli dia mau kemana. Paling juga ke hotel dekat kantornya seperti dulu.

Meskipun Idan sudah pergi dari rumah, aku juga harus pergi. Aku tetap ingin pulang ke rumah ibu. Tidak hanya dua atau tiga hari. Mungkin dalam waktu yang agak lama. Atau malah selamanya.

***

Ternyata Idan sering telpon ke rumah Ibu menanyakan kabarku. Dia sudah balik lagi ke rumah kami rupanya. Pasti dia kehabisan baju bersih lagi seperti dulu.

Aku selalu menolak jika ibu bilang kalau Idan ingin berbicara denganku di telpon. Aku masih sangat marah kepadanya.

Di rumah ibu sangat prihatin dengan keadaan hubungan kami. Berkali-kali Ibu menyarankanku agar berbaikan dengan Idan. Namun selalu aku tampik dengan alasan ini itu.

Sampai pada suatu ketika ibu bercerita tentang pembicaraannya dengan Idan saat aku masih di rumah sakit. Sebenarnya aku heran kenapa ibu lebih membela Idan daripada aku yang anaknya sendiri.

“Ibu tidak habis pikir dengan perlakuanmu terhadap Idan Pit. Idan itu pria yang sangat baik tapi apa yang kau lakukan untuk membalas kebaikannya? Kamu malah selalu berburuk sangka kepadanya?”

“Maksut Ibu? Bukankah sudah Upit katakan alasan kenapa kami bertengkar?”

“Cuma karena itu? Darimana kamu yakin kalau Idan selingkuh dengan wanita lain hanya dengan melihat Idan makan bareng dengan wanita itu?” Aku terdiam dengan pertanyaan ibu itu.

“ Apa jika kamu sedang di kantormu dan duduk semeja dengan teman seprofesimu yang laki-laki lantas Idan bisa menyimpulkan kalau kamu selingkuh dengan laki-laki itu?”

“Ingat Pit, kita para wanita memang diberi rasa cemburu yang lebih. Dan kita lebih mendahulukan perasaan kita sehingga kadang terburu-buru menyimpulkan segala sesuatu secara terburu-buru dan sepihak. Sedangkan para lelaki lebih cenderung menggunakan akal logika dalam setiap masalah. Namun itu bukan berarti wanita tidak butuh menggunakan logikanya dan lelaki tidak butuh menggunakan perasaannya. Harusnya kedua sifat dan kecenderungan itu bisa disatukan untuk saling melengkapi.

“Dan itu bisa terjadi jika kedua pihak mau berusaha menjaga keharmonisan hubungan itu dengan mau saling mengerti dan berbagi. Bukan dengan saling buruk sangka dan mencurigai. Gimana bisa saling mengerti jika kalian tidak saling bebicara baik-baik?

Aku masih terdiam merenungi hal-hal yang selama ini kulewati dan mencerna setiap kata yang ibu ucapkan. Apakah aku memang terlalu besikap keras terhadap Idan? Padahal selama ini kuakui Idan memang lebih sering mengalah padaku. Egois. Siapa sekarang yang egois?

“Saat kamu sakit dan dia datang mengunjungimu, kamu justru mengacuhkannya.Idan merasa sangat sedih. Dia cerita ke ibu bahwa sebenarnya juga tidak ingin pergi keluar kota saat itu. Namun jika tidak dia lakukan bukankah perusahaan tempatnya bekerja bisa hancur kredibilitasnya? Dan saat itu memang hanya Idan yang dianggap mampu menangani proyek itu.

“Setiap hari dia juga selalu merindukanmu. Itulah kenapa dia selalu meneleponmu setiap hari hanya untuk mendengarkan suaramu. Dan kalau bisa keceriaanmu seperti dulu. Namun apa yang kamu lakukan? Kamu justru membuatnya khawatir dengan rewel seperti anak kecil dan mengabaikan kesehatanmu sendiri. Padahal kamu sedang mengandung anak pertama kalian.

“Jangan dipikir bahwa Idan menelepon rumah satu kali sehari Pit. Tapi berkali-kali karena dia sangat menghawatirkanmu. Dia selalu mewanti-wanti ibu agar menjagamu dengan baik, memastikan bahwa kamu sudah makan dengan baik, sudah minum vitamin dan menjaga kesehatanmu.

“Bahkan saat dia mengalami kecelakaan di tempat kerjanya sehingga kakinya sampai pincang seperti itu karena mengalami keretakan tulang, dia juga tidak memberitahumu karena dia tidak ingin membuatmu khawatir dan bertambah stress. Dia mengalami keterlambatan pulang karena itu Pit.

Jadi kaki Idan yang pincang waktu itu gara-gara kecelakaan disana? Ya Tuhan betapa bodoh dan egoisnya aku tidak sempat menanyakan kenapa kakinya bisa pincang seperti itu?

“Jadi jika saat kamu stress dan keguguran kamu menyalahkan Idan, kamu salah Pit. Maaf bukan maksut ibu menyalahkanmu. Tapi Idan tidak sepenuhnya harus menanggung kesalahan itu.

“Saat kalian saling mendiamkan, Idan sering curhat ke Ibu kalau di sangat tersiksa dengan sikapmu. Di sisi lain dia sangat merindukanmu, keceriaanmu, candamu seperti dulu namun di sisi lain dia tidak ingin mengganggumu dan ingin menjauh dulu agar kamu lebih tenang pasca keguguran. Tapi kamu malah makin berprasangka yang tidak-tidak padanya gara-gara sikapnya itu.

“Kesampingkan rasa cemburumu yang berlebihan itu Pit. Itu agar mata dan pikiranmu tidak dibutakan oleh prasangka yang tidak-tidak tentang suamimu. Ibu yakin Idan tidak mungkin melakukan hal seperti yang kamu tuduhkan karena ibu juga sangat mengenal Idan.

“Selama puluhan tahun saat kalian baru sebatas sahabat hubungan kalian baik-baik saja, saling menerima kekurangan masing-masing dan saling mengerti. Kenapa justru saat hubungan kalian semakin didekatkan oleh ikatan pernikahan, kalian malah semakin tidak mau saling mengerti? Yang karena sedikit kesalahpahaman saja sudah meretakkan hubungan kalian. Camkan kata-kata ibu baik-baik Pit. Sebelum semuanya terlambat dan memburuk lebih jauh.”

“Idan kemarin telpon jika dia mau pamitan ke kamu kalau dia mau ada tugas kerja ke Taiwan. Sebaiknya kamu telpon dia balik. Berbicaralah dengannya dari hati ke hati!”

Selepas mengatakan itu ibu meninggalkanku sendiri di teras rumah. Dalam lamunan dan kesendirianku itulah aku merenungi kata-kata Ibu barusan. Ibu belum pernah menasehatiku seserius ini. Bahkan saat dulu menganjurkanku untuk segera menikah.

Aku kembali merenungkan apakah sikapku ke Idan akhir-khir ini terlalu berlebihan? Bagaimana aku bisa sejahat ini? Bagaimana aku bisa menuduh Idan yang ternyata begitu sayang padaku kalau dia selingkuh dengan wanita lain hanya karena dia makan bareng dengan teman kerja wanitanya? Bukankah bisa saja waktu itu Idan memang sendiri dan tiba-tiba temannya itu ikut nimbrung disana? Ah kenapa aku tidak bisa berpikir lebih jernih pada waktu itu? Aku terlalu terburu-buru menyimpulkan.

Tiba-tiba aku merasa rindu sekali kepada Idan. Aku ingin meneleponnya balik. Aku ingin minta maaf dan ingin mengungkapkan seluruh perasaanku agar semuanya kembali clear. Meskipun aku tidak tahu apakah saat berbicara dengannya kata-kataku akan benar-benar keluar atau tidak. Tampaknya aku lebih fasih mengeluarkan isi hatiku ketika bertengkar daripada ketika berbicara dari hati ke hati.

Kutekan tombol-tombol pesawat itu degan nomer rumah kami. Sesaat nada sambung terdengar dan tidak ada jawaban. Kutelpon sekali lagi dan ternyata tidak ada jawaban juga.

Ya Tuhan! Apa mungkin dia sudah berangkat ke Taiwan?

Aku harus ke rumah sekarang. Aku berpamitan ke Ibu dan langsung bertandang ke rumah dengan mobilku. Jalanan kota macet lagi. Ayolah!

Setengah jam kemudian mobilku baru bisa jalan. Kupercepat laju kendaraanku. Aku berharap masih sempat bertemu dengannya dan mengucapkan permohonan maafku. Akan kukesampingkan malu, gengsi dan egoku selama ini di hadapannya nanti.

Sesampai di rumah ternyata sepi tidak ada orang. Untung aku masih bawa kunci serep. Kubuka pintu dan di bawah pintu ternyata ada surat terselip. Ditujukan buatku. Kubuka dan kubaca. Isinya surat pamitan kepadaku?

Ternyata Idan sudah berangkat dari tadi pagi! Dia akan segera berangkat ke Taiwan dengan pesawat nomer penerbangan ini?

Aku harus mengejarnya sampai bandara. Jalanan kota ternyata macet lagi! Aduuuh kenapa harus sekarang ketika aku sangat terburu-buru?

Beruntung macetnya tidak terlalu lama. Kukebut kendaraanku sampai bandara. Aku sudah berusaha secepat mungkin.

Ternyata terlambat. Keberangkatan pesawat menuju Taiwan ternyata sudah beberapa jam yang lalu.

Terlambat sudah. Idan pergi dengan tetap membawa beban kegundahannya padaku. Dan aku tetap disini dengan beban rasa bersalahku padanya.

***

Aku masih mematung di lobi bandara. Tatapanku nanar ke arah signboard penunjuk keberangkatan maskapai pesawat.

Di sela-sela lamunanku kabar itu datang. Dari pihak bandara mengabarkan bahwa pesawat terakhir yang berangat ke Taiwan dengan nomer penerbangan sekian dikabarkan mengalami kecelakaan.

DEG!

Jantungku serasa berhenti. Bukankah itu pesawat yang ditumpangi Idan tadi?

Aku menjerit! Aku masih belum percaya ini! Apakah ini saat aku harus kehilangan dia? Aku harus kehilangan Idan dan aku belum sempat mengucapkan maafku padanya? Aku belum sempat bilang kalau aku sangat merindukannya dan aku ingin hubungan kami kembali baik?

Seperti berjalan mundur melewati dimensi waktu aku kembali ke saat-saat bersamanya selama ini. Masa persahabatan kami, pernikahan simulasi kami sampai pernikahan kami yang sesungguhnya saat kami sama-sama menemukan cinta.

Pandanganku tiba-tiba mengabur dan gelap...

(Bersambung ke Part 9)
Read Comments

Simulasi pernikahan


Setelah Kau Menikahiku 7
(Pernikahan Simulasi Part 7)

Pernikahan Simulasi (Bagian 7)

Berat mata kubuka dan seketika cahaya putih berpendar menyeruak menyilaukan pandanganku. Dimana aku? Lambat laun aku tahu bahwa aku sudah ada di rumah sakit. Di sampingku sudah ada ibu yang tertidur sambil duduk dengan kepala menyandar ke ranjang tempatku berbaring. Tangannya masih erat menggenggam tanganku.

“Ibu?” pelan-pelan kubangunkan ibu. Aku ingin bertanya kenapa aku bisa disini. Seingatku aku demam, kesadaranku mulai hilang dan… ya Tuhan! Nyeri di perut bagian bawahku masih terasa sampai sekarang. Bagaimana keadaan kandunganku?

“Ibu?” sekali lagi kubangunkan ibu dan pelan-pelan ibu terbangun.

“Upit? Alhamdulillah kamu sudah siuman nak!” Melihat diriku yang sudah siuman, beliau langsung berucap syukur dan memelukku.

“Dimana Idan bu? Bagaimana keadaan kandunganku?” tanpa basa-basi langsung kutanyakan apa yang masih mengganjal dalam benakku saat ini.

“Idan masih dalam perjalanan pulang Pit. Doakan saja cepat sampai.”

“Bagaimana dengan kandunganku Bu?” Sekali lagi ku ulang pertanyaanku. Namun ibu hanya tersenyum getir dan mengalihkan pembicaraan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Jangan-jangan?

Tapi aku tidak mau berpikir buruk dulu. Saat ini aku masih sangat lemah dan Idan bilang kemarin kalau aku tidak boleh terlalu stress. Kubalikkan badanku membelakangi Ibu. Kuabaikan tatapan ibu dan ceritanya yang aku tahu hanya untuk mengalihkan pembicaraan kami. Yang aku inginkan saat ini masih Idan. Aku ingin Idan menemaniku sekarang. Secepatnya!

Tiba-tiba pintu dibuka dan salah satu kakak sepupuku masuk dengan tergesa-gesa mengabarkan kalau pesawat yang ditumpangi Idan mengalami keterlambatan sehingga tidak bisa datang cepat.

Kubalikkan badanku menghadap mereka berdua. Kakak sepupuku ternyata tidak menyadari jika aku sudah siuman dari tadi sehingga kabar itu langsung saja ia lontarkan di depan ibuku. Aku berusaha tegar di depan ibu dan hanya bisa menitikkan air mata dan menangis kecewa di dalam hati…

Sementara ibu dan sepupuku hanya berdiri menatapku iba. Ibu menghampiriku dan menenangkanku. Aku berharap jadi tenang tapi justru malah membuatku semakin merasakan kekecewaanku.

***

Tadinya aku sudah merasa lega karena terbagun dari mimpi burukku dan kembali ke dunia nyata namun ternyata mimpi buruk itu justru ada di depan mata di dunia nyata. Setelah kabar keterlambatan Idan yang sempat membuatku sangat kecewa, kabar buruk lain datang dari dokter yang tadinya sempat disembunyikan oleh ibu.

Kandunganku.. kandungan pertamaku, aku terpaksa harus merelakan kandunganku dikuret karena kemarin aku ternyata mengalami pendarahan hebat yang entah karena apa. Aku masih beruntung karena aku mampu bertahan melewati masa-masa kritisku dan siuman dari koma berhari-hari.

Aku benar-benar merasakan kekecewaan yang sangat besar saat ini. Idan yang tidak bersamaku, yang tidak menemaniku di saat-saat seperti ini. Saat ketika aku sangat membutuhkannya.Suami macam apa dia yang lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya sendiri? Dan sekarang aku harus kehilangan kandunganku. Kandungan pertamaku, anak pertamaku dengan Idan.

Terpuruk. Ya itulah kata yang tepat buatku sekarang. Aku pasrah.. Upit! Apa yang terjadi padamu? Mana kemandirianmu dulu? Mana ketegaranmu? Kenapa kamu jadi seperti ini sekarang?

Yang jelas aku sangat kecewa saat ini!

Idan baru datang hari berikutnya. Dia terlihat sangat letih dari perjalanan jauhnya. Tapi aku tidak peduli. Aku masih sangat kecewa padanya. Aku masih marah padanya. Dan apakah dia sudah tahu kabar gugurnya kandunganku? Ah pasti Ibu sudah memberitahunya.

“Maafin aku Pit.” Idan datang menghampiri tempatku berbaring dan menggenggam tanganku. Kuhempaskan tangannya dan kubalikan badanku membelakanginya. Aku sangat rindu padanya tapi untuk saat ini aku sedang tidak igin melihat wajahnya.

“Maafin aku Pit. Aku gak bisa menemanimu di saat-saat beratmu. Ibu dah cerita semuanya dan aku juga sangat sedih Pit dengan kejadian yang menimpamu saat ini. Yang menimpa anak kita juga..”

Aku tetap bergeming. Pura-pura tak menghiraukan perkataannya. Aku tidak tahu seperti apa ekspresinya sekarang tapi aku yakin pasti dia sedang pasang tampang sok memelas seperti biasanya ketika meminta maaf.

“Ayolah Pit, jangan begini terus. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf sekali Pit. Aku rindu sekali padamu Pit.”

Kata-kata terakhirnya manis sekali. Tapi tidak untuk saat ini. Kamu harus dihukum Dan. Kamu harus merasakan dan menyadari betapa kecewanya diriku padamu.

Aku ingin menghukumnya seperti dulu. Seperti ketika dia membuatku sakit selama seminggu dan terpaksa merelakan diriku dia rawat seperti bayi. Hanya saja kali ini aku tidak berminat menyuruh-nyuruhnya melakukan ini itu lagi seperti dulu. Terbukti sudah tidak mempan dan malah akan membuatku merasa iba padanya. Kali ini aku hanya ingin mendiamkannya.

Tapi reaksinya ternyata sama saja. Dia sama sekali tidak protes seperti dulu dan ikut-ikutan diam seribu bahasa. Huuh gimana sih? Kok tidak mengejar-ngejarlagi? Kok tidak berusaha lagi minta maaf dan menyalahkan diri sendiri? Padahal kan jelas dia yang salah? Payah!

Awas nanti! Ini akan berlangsung lama Dan! Jangan dikira aku hanya mengertak saja.

Sesaat kemudian Ibu datang. Melihat interaksi kami yang terkesan dingin, ibu pun mengajak Idan keluar dan bicara. Entah apa yang mereka bicarakan. Paling Cuma bilang: Sabaaarrr…

Tapi, eh kok Idan jalannya agak pincang ya? Kenapa dia? Ah masa bodoh aku gak peduli. Dia juga tidak memperdulikanku. Bahkan meninggalkanku di masa-masa mengandung anak kami berdua. Aku sudah melarangnya tapi dia tetap bersikukuh pergi. Egois!

***

Beberapa hari kemudian kondisiku sudah agak baikan dan diperbolehkan pulang. Saat keluar dari rumah sakit dan menuju mobil jemputan aku tidak mau dipapah oleh Idan. Aku maunya sama Ibu saja. Ibu yang tahu kondisi hubungan kami saat ini mengiyakan saja.

Diperjalanan pulang kami tetap saling diam. Hanya Ibu yang lebih banyak bicara dengan kami. Itupun bergantian. Kadang berbicara dengan Idan, kadang berbicara denganku. Tidak ada interaksi yang hangat sama sekali di antara kami bertiga. Aku tetap bersikukuh tidak mau bicara dengan Idan, dan Idan juga diam saja di tempatnya menyetir mobil.

Sampai di rumah aku dipapah lagi oleh Ibu. Dan berat rasanya ketika ibu berpamitan pulang karena tugasnya menjagaku sudah selesai. Sudah ada Idan katanya. Ini berarti tidak ada lagi orang yang bisa kuajak bicara. Tidak juga Idan karea aku memang tidak ingin bicara padanya.

“Ibu pulang dulu ya? Jaga diri kamu baik-baik Pit. Jangan sedih lagi. Idan udah pulang tuh.” Sebelum keluar pintu Ibu masih sempat menasehatiku. Aku hanya mengangguk.

“Dan kamu Dan, ibu nitip Upit ya? Jagain baik-baik!”

“Iya bu.” Jawab Idan

"Yaudah. Ibu berangkat dulu. Taksinya sudah nunggu dari tadi. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumusalam..”

Setelah mengucap salam ibu pergi dengan taksi. Aku masih mematung di teras sementara Idan masuk sendiri ke rumah.

***

Bukan ini yang aku harapkan. Setelah berbagai kejadian yang menimpaku, kepulangan Idan dan kebersamaan kami lagi di rumah, bukannya membuat hubungan kami kembali dekat tapi malah makin renggang.

Aku mendiamkan Idan namun ternyata Idan juga tidak menyapaku. Berusaha mendekatiku pun tidak. Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi? Apa dia kecewa dengan sikapku? Sama kecewanya dengan kekecewaanku padanya? Atau jangan-jangan dia kecewa karena aku gagal menjaga kandunganku? Gagal mempertahankan anak kami?

Apalagi Idan makin sering pulang malam sekarang. Dan selama berhari-hari ini tak ada interaksi sama sekali di antara kami. Bertemu pun jarang karena dia akan berangkat sangat pagi dan pulangnya sangat larut malam. Dan kami juga tidak tidur sekamar lagi. Dia lebih suka tidur di sofa ruang tengah.

Ah berbagai dugaan yang kupikirkan makin membuatku gelisah berhari-hari. Jangan-jangan Idan sudah memiliki wanita idaman lain seperti yang sering kulihat di infotainment. Yang ketika hubungan suami-istri sudah mulai tidak harmonis maka salah satu akan melampiaskannyadengan menggaet pasangan idaman lain? Ah memikirkan itu saja sudah membuatku pusing dan bingung saat ini.

Daripada penasaran mending aku selidiki apa yang dilakukan Idan pada jam-jam siang begini di kantornya. Lagian aku bosan di rumah terus dalam masa penyembuhanku saat ini. Selain itu aku juga harus bertemu dengan Idan dan bicara. Aku ingin semua kembali baik lagi seperti dulu. Aku ingin semuanya jadi jelas.

Aku pun bertandang ke kantornya dengan mengendarai mobilku sendiri. Jalanan kota siang ini sering sekali macet dan itu membuatku makin sebel dan stress. Langit terlihat mendung dan akan turun hujan. Kelam dan kalut sekalut pikiranku sekarang.

Sesampai di kantor Idan dan memasuki pintu gerbang, satpam penjaganya hanya sepintas melirikku saja tanpa memeriksa atau menginterogasiku sepert yang biasa dilakukan terhadap tamu-tamu yang lain.

Mungkin karena melihat pakaianku yang terlihat resmi dengan blazer merah hatiku dan rok panjang hitamku dia mengira aku tamu penting yang biasa mendapat perlakuan khusus.

Masuk area parkir ternyata lumayan jauh dari pintu kantor. Kuparkir mobilku di lokai terdekat dengan pintu keluar agar tak repot nanti kalau mau balik.

Saat menuju pintu utama kantor aku melewati sebuah kantin fastfood kantor itu. Kantin itu terlihat besar dengan jendela kaca memenuhi sebagian besar dinding kantin itu.

Saat lebih dekat, dari luar jendela besar itu aku lihat Idan sedang duduk sendiri sambil membaca sebuh buku kecil dan menghadap secangkir kopi. Bergegas aku mendatanginya.

Saat jarakku dengan jendela besar itu tinggal beberapa langkah lagi aku berhenti karena kulihat Idan ternyata tidak sendiri. Ada seorang wanita muda cantik menghampiri Idan, duduk semeja dengan Idan dan mereka terlihat bercengkerama, tertawa-tawa bersama. Siapa dia? Jangan-jangan dugaanku benar?
...................................

(Bersambung ke part 8)
Read Comments

Simulasi Pernikahan


Setelah Kau Menikahiku 6
(Pernikahan Simulasi Part 6)

Pernikahan Simulasi (Bagian 6)

“Selamat, anda positif” Ujar dokter cantik itu sambil mengulurkan selembar kertas yang isinya tidak kumengerti.

“Maksutnya dok? Saya kena penyakit apa?”

“Anda tidak sakit, anda positif hamil sekarang” dokter itu tersenyum.

“Hamil?” tanyaku masih belum percaya.

“Iya dan selamat anda akan segera menjadi seorang ibu”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain senyum yang kupaksakan tersungging di depan dokter itu karena di benakku masih ada sisa-sisa keterkejutan yang teramat sangat. Entah bagaimana perasaanku sekarang aku masih belum paham. Namun ada kebahagiaan tersirat di dalamnya. Kebahagiaan macam apa ini? Apakah ini rasanya jika akan menjadi seorang ibu? Rasanya akan punya anak yang lahir dari rahim sendiri? Mungkin ini seperti yang dikatakan Idan jika punya anak sendiri pasti berbeda rasanya dengan jika hanya anak angkat.

Kutelpon ibu. Kukabarkan kebenaran tebakan ibu tadi. Dari seberang sana kudengar ibu histeris bahagia.

“Sudah kau beritahu Idan?”

“Belum” jawabku pendek.

“Segera beritahu dia! Dia pasti sangat senang!”

“Iya nanti lah. Udah dulu ini taksinya sudah datang. Assalamu’alaikum”

“Oh iya. Wa’alaikumusalam”

Kututup handphoneku dan segera menyetop taksi yang lewat.

Dalam perjalanan pulang aku masih bertanya-tanya entah apa yang akan kukatakan pada Idan nanti di rumah? Dan seperti apa nanti reaksinya?

***

Sampai rumah Idan belum pulang. Masih beberapa jam lagi dia biasanya baru pulang.

Rasanya sepi sekali sendirian begini. Padahal hari-hari sebelumnya biasa saja rasanya sendirian di rumah. Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Aku jadi merindukan Idan. Aku ingin dia segera pulang sekarang.

Aku beranikan diri meneleponnya. Sesaat nada tunggu terdengar nyaring di telingaku sampai akhirnya suara orang yang kutunggu-tungguitu terdengar.

“Halo Pit? Ada apa? Kamu udah baikan?”

“Kapan kamu pulang?” aku langsung pada pertanyaan intiku.

“Oh dua jam lagi aku pulang. Sabar ya? Kamu mau dibelikan lauk apa buat makan malam nanti? Mau gulai kepala kakap gak?”

“Terserah apa aja. Aku mau bilang sesuatu ke kamu” kataku. “Hati-hati di jalan nanti”

“O iya. Jaga diri baik-baik di rumah ya?”

Entah kenapa aku yang menginginkan Idan pulang cepat ternyata tidak punya cukup keberanian untuk memaksanya pulang sekarang. Aku tidak ingin lebih dulu merusak suasana karena aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya nanti.

Aku tidak tahu harus ngapain sekarang sambil nunggu Idan. Akhirnya aku duduk melamun di dekat jendela sambil menunggunya pulang.

Berbagai pikiran melintas di benakku sampai aku tersadarkan oleh suara klakson di depan rumah. Tandanya Idan sudah pulang. Kuintip dari jendela lantai dua. Kulihat dia tampak lelah sekali, keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk sambil menenteng bungkusan yang aku tahu itu pasti lauk yang ia janjikan tadi.

Aku langsung turun dan menyambutnya.

“Hai Pit. Kamu tampak udah baikan sekarang” sapanya.

“Aku kan sudah bilang aku tidak apa-apa.”

“Kita langsung makan malam yuuk. Ini aku sudah bawakan gulai kepala kakap yang aku janjikan tadi.”

“Sebaiknya kamu mandi dulu dan ganti pakaian. Bau sekali” saranku padanya. Entah kenapa aku merasa keringat Idan lebih bau hari ini.

Idan menurut dan langsung ke kamar buat menaruh tas kerja, mandi dan ganti pakaian. Aku menunggunya di meja makan sambil mengeluarkan nasi yang belum sempat dimakan tadi pagi dari ricecooker.

Idan datang ke ruang makan dengan wajah yang sudah lebih segar dari yang tadi. Entah karena dia kurang bersih membilas sabun mandinya tadi atau apa, aku merasa bau sabun mandi yang dikenakan Idan masih sangat menyengat.

Kami pun mulai makan. Idan membuka bungkusannya tadi dan menuangkannya di mangkok sedang sambil bertanya,

“katanya mau bicara sesuatu padaku?”

“Iya, tapi kamu makan dulu aja. Aku takut setelah kubilangin, kamu jadi gak doyan makan nanti”

“Masak? Jadi penasaran nih. Jangan bilang kamu mau ngingetin berakhirnya kontrak pernikahan simulasi kita lagi seperti dahulu hehehe” canda Idan.

Aku melengos dan kutinju tangannya. Dia mengelak.

Sesaat kulihat gulai kepala kakap yang sepintas sangat menggiurkan. Namun saat kusendok sedikit ke piringku, tiba-tiba baunya jadi sangat menyengat dan mual-mual yang sempat menyerangku tadi pagi terasa kembali. Aku langsung lari ke kamar mandi diikuti Idan yang terkejut.

“Kamu gak apa-apa kan Pit? Kalau sakit ayo aku antarkan ke dokter.”

Di dalam kamar mandi aku masih diam karena masih menahan muntah. Barulah setelah muntahnya mereda aku keluar dan dengan dipapah Idan aku menuju kamar untuk sekedar berbaring sejenak. Saat sudah berbaring Idan menungguiku di samping tempat tidur.

“Kamu makan aja dulu. Aku lagi gak selera makan” perintahku padanya.

“Kamu masih sakit Pit. Ayo kuantar ke dokter!” Idan tidak memperdulikan perintahku tadi.

“Aku gapapa” desahku.

“Tapi jelas kamu seperti ini! Bagaimana kamu bisa bilang gapapa?”

“Aku beneran gapapa Dan. Tadi aku sudah ke dokter.”

“Kamu ke dokter? Diantar sama siapa?”

“Sendirian”

“Sendiri? Kenapa tidak minta aku buat mengantarkan tadi pagi? Kalau aku udah di kantor kenapa tidak minta ibu atau temenmu buat ngantarkan? Nanti kalau kamu pingsan di jalan gimana? Siapa yang njagain?” Idan mencercaku dengan banyak pertanyaan.

“Aku ga mau ngerepotin kamu dan ibu. Lagian aku gapapa kok. Buktinya aku gak pingsan di jalan, masih bisa pulang dan ketemu kamu?”

“Tapi Pit, aku kan suamimu? Aku jelas khawatir!” Idan tampak gemas.

“Aku tahu. Udahlah jangan diperdebatkan lagi. Aku sedang tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu seperti biasanya. Aku cuma mau ngomong sesuatu ke kamu.”

Tatapan Idan pun melembut dan bertanya “Mau ngomong apa”

“Janji jangan kaget ya?” pintaku sambil mengulurkan jari kelingkingku sebagai tanda persetujuan janji.

Idan menyambutnya sambil berkata “Asalkan jangan bilang mau ngingetin berakhirnya kontrak pernikahan simulasi kita aja. Kalau yang itu mungkin aku akan kaget setengah mati, kena serangan jantung dan mati mendadak hehehe”

Kutinju lagi tangannya. Dia mengaduh kesakitan. Dasar Idan tak pernah berhenti mencandaiku.

“Aku hamil Dan” kataku pendek namun cukup untuk menghentikan tawa Idan seketika.

Aku menunggu reaksinya. Dia masih diam tak berkata- apa-apa sambil menatapku. Aku tak bisa membaca ada apa di balik tatapannya itu dan tiba-tiba dengan cepat Idan menarikku dan memelukku erat sambil berkata “ Aku belum pernah sebahagia ini Pit”

Aku pun turut larut dalam kebahagiaan itu. Kebahagiaan Idan. Kebahagiaan kami..

^^^^^^^^^^^^^

Aku menjalani masa-masa kehamilan selayaknya perempuan-perempuan hamil yang lainnya. Gak boleh begini, gak boleh begitu, gak bisa ini gak bisa itu, gak boleh makan ini gak boleh makan itu. Setiap hari selalu dicereweti Ibu yang tiap hari telpon buat memastikan kalau anak perempuanya ini bener-bener baik-baik saja. Menyebalkan tapi aku nikmati saja saat-saat seperti ini. Mungkin inilah asyiknya pernak-pernik jika menjadi calon ibu.

Idan juga makin memanjakanku. Tiap hari ia membelikanku berbagai macam hadiah kejutan. Katanya biar aku senang. Jika aku senang maka anak dalam kandunganku pun juga senang. Apapun yang kumau juga diusahakan oleh Idan untuk dipenuhi. Idan menuruti saja apa kata ibu yang bilang kalau orang hamil minta sesuatu tidak dituruti, maka anaknya nanti akan jadi ngileran. Ah tahayul menurutku. Emang ada penjelasan ilmiahnya?

Tapi ada untungnya bagiku karena aku jadi bisa minta apa aja ke Idan. Tapi aku juga masih perasaan karena aku juga tak mau membuat Idan makin kelimpungan di samping kesibukannya mencari nafkah yang sebenarnya aku sendiri juga mensuplai cukup banyak untuk kebutuhan rumah tangga kami.

Dalam masa kehamilan ini sebenarnya aku tidak terlalu rewel untuk masalah makanan dan susu nutrisi ibu hamil. Cuma mungkin jadi agak sensi ketika bertemu dengan makanan yang bersantan dan berbau menyengat karena bau yang dalam kondisi biasa akan tercium biasa saja, kali ini akan tercium berlipa-lipat lebih menyengat dan membuatku mual-mual.

Idan pun menyesuaikan diri dengan membuat makanan-makananyang baunya tak terlalu menyengat, jika membuat sayur menghindari yang bersantan dan dia harus rela meninggalkan makanan kesukaannya: gulai yang paling tidak harus ia hindari sampai aku melahirkan nanti. Makan di luar? Tetap tidak bisa karena jika pulang nanti pasti aku masih bisa mencium baunya.

Setiap hari Idan sibuk membuat list apa saja yang harus dibeli untuk kebutuhan bayi kami nanti. Ia bahkan membeli banyak buku-buku tentang kehamilan dan persiapan melahirkan mulai dari tips dan trik sampai buku tentang nama-nama anak yang bagus. Aku bahkan belum sempat membaca buku-buku itu. Kulihat Idan juga jarang membacanya. Lalu untuk apa dibeli? Mungkin gejolak sesaat saja karena ia masih gugup mengetahui dirinya akan menjadi calon ayah buat anak pertama kami ini.

Aku masih bekerja meskipun mungkin agak berkurang intensitasnya. Idan sudah melarangku bekerja. Namun itu berarti aku harus meninggalkan pekerjaanku sekarang dan aku gak mau itu sampai terjadi. Aku pun bersikeras kalau aku gak ngapa-ngapain justru malah akan makin bosan, susah, capek pikiran dan malah jadi gak sehat. Idan pun mengijinkanku bekerja sampai masa-masa ketika aku perlu cuti nanti dengan catatan aku tidak boleh terlalu capek, stress dan harus banyak-banyak istirahat. Aku mengiyakan saja.

Yang jelas hari-hari kehamilanku tak kurang apapun, penuh kejutan dan kebahagiaan selama ini sampai suatu sore ketika Idan pulang cepat dan mengabariku kalau ia harus tugas keluar kota.

“Aku ada tugas keluar kota Pit. Jadi kamu akan sendirian di rumah untuk beberapa waktu. Besok pagi aku berangkat”

“Kenapa tiba-tiba sekali? Sampai berapa lama? Kok harus kamu sih? Apa gak bisa orang lain? Temen-temenmu? Nanti kalau aku butuh sesuatu ke siapa dong? Kok kamu tega sih ninggalin aku di saat-saat seperti ini?”

Aku menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan kebingunganku. Sebenarnya bukan karena “jika aku butuh sesuatu minta ke siapa” karena aku juga bisa sendiri atau minta ke ibu. Yang aku butuhkan saat ini adalah Idan. Aku butuh bersama dia, aku butuh dia menemaniku di masa-masa labilku sekarang ini.

“Kamu jangan gitu donk Pit. Bukannya aku tega. Ini murni urusan pekerjaan. Harusnya bosku yang bertemu dengan klien di sana. Tapi tadi bos mendadak tidak bisa dan dia mau aku yang menggantikannya. Dia cuma percaya sama aku buat menggantikannyamengingat proyek ini sangat penting bagi perusahaan kami. Mungkin selama hampir dua bulanan. Aku sudah telpon Ibu. Aku minta tolong beliau agar menjagamu selama aku keluar kota.”

“Lagian gak lama-lama amat kok. Kamu pasti senang ditemani Ibu di rumah. Kalian bisa sharing tentang pernak-pernik kewanitaan dan persiapan melahirkan tanpa harus diikut campuri oleh laki-laki. Ibu tentu lebih tahu tentang itu.”

Panjang lebar dia mengungkapkan alasannya. Sejujurnya aku masih gak rela jika di pergi sekarang. Saat masa-masa aku sangat membutuhkan kehadirannya namun aku tak kuasa menahannya lagi. Aku tak punya daya lagi untuk berbantah-bantahan dengannya. Tubuhku terasa lemah sekali saat hamil ini dan malas melakukan hal-hal yang menyita tenaga dan pikiran. Apalagi yang membuat stress.

Tapi bukankah saat ini saja aku sudah stress menghadapi kenyataan bahwa selama dua bulan ke depan aku akan sendirian tanpa Idan? Meskipun ditemani ibu tapi akan tetap sepi tanpa Idan. Aku heran mengapa aku jadi melankolis dan tak berdaya seperti ini? Kontras sekali dengan aku dulu yang cenderung mandiri dan tak butuh orang lain. Kulakukan banyak hal sendirian. Namun sekarang? Aku benar-benar tak berdaya jika sendiri. Tak terbayang bagaimana hari-hariku nanti tanpa Idan. Meskipun hanya sementara. Ya kuharap sementara saja.

Akhirnya kuijinkan dia dengan berat hati dan dengan segala konsekuensi. Mulai besok pagi Idan akan berangkat keluar kota dan aku akan sendiri. Aku pasti akan sangat merindukannya. Ah kuakui hari-hari yang telah kulalui dengan Idan selama ini memang tak pernah membosankan.

Mungkin akan jadi membosankan jika tanpa dia.

***

Pagi-pagi sekali Idan berangkat dijemput temannya.

“Jaga diri kalian baik-baik ya. Aku akan cepat kembali” Idan berpamitan padaku sambil mengecup keningku.

“Hati-hati di jalan” jawabku pendek.

Aku berusaha bersikap biasa saja saat dia berpamitan. Sebenarnya banyak pesan yang ingin kusampaikan padanya: jaga diri baik-baik, jangan lupa makan, jaga kesehatan, jangan lupa telpon aku setiap hari, jangan bikin masalah dengan orang lain, cepetan balik dan banyak lagi.

Namun semua terasa berhenti di tenggorokan. Aku sangat mengkhawatirkannya namun aku tak kuasa menyampaikannyakarena aku takut ketegaranku di depannya akan runtuh seketika ketika aku berbicara lebih banyak dan tangisku tumpah. Aku jadi agak cengeng akhir-akhir ini.

“Jangan khawatirkan diriku. Justru aku yang mengkhawatirkandirimu. Dan anak kita tentunya” Idan seperti bisa membaca gundah di benakku.

Aku mengangguk. Idan meninggalkan rumah dengan tetap menatapku. Kekhawatiran yang sangat mendalam dalam sorot matanya. Aku berusaha tetap tersenyum mengantarkan kepergiannya.

“Cepat balik!!”

Hanya kata itu yang terakhir bisa kuteriakkan padanya dari jauh di sela-sela senduku yang tertahan. Entah kenapa aku merasa sangat khawatir kali ini.

Tangisku tumpah saat mobilnya sudah tidak terlihat. Aku buru-buru masuk rumah dan membenamkan wajahku di bantal. Aku sebal sekali kenapa aku bisa begitu cengeng sekarang.

Dulu di awal-awal pernikahan saat Idan pergi dan tak pulang-pulang bahkan aku nyaris tak peduli. Apa semua karena cinta?

Beberapa saat kemudian Ibu datang. Aku hapus air mataku dan keluar menyambut Ibu.

“Kamu habis nangis Pit?” Ibu seperti bisa menangkap apa yang barusan terjadi.

“Enggak. Cuma kelilipan tadi” sanggahku.

“Sudahlah, Idan kan Cuma pergi beberapa waktu saja. Tak akan lama. Kan ada Ibu yang menemani sementara?” Ibu seperti faham dan memaklumi kebohongaku.

Aku Cuma tersenyum. Kujawab dalam hati, Iya Bu memang tidak sendiri karena Ibu temani. Tapi hatiku yang terasa sepi karena tidak ada Idan di sisi.

***

Hari-hariku tanpa Idan benar-benar sepi. Meskipun aku bisa ngobrol sama ibu tapi rasanya tetap beda. Ngobrol sama ibu lebih banyak seriusnya. Kadang ibu berusaha menghiburku dengan lelucon-leluconala tahun 70-annya tapi buatku itu tak lucu sama sekali. Idan tetap lebih lucu bagiku mengalahkan pelawak manapun.

Saat jadi sahabatku ia selalu berhasil menghiburku dengan lelucon-leluconkonyolnya bila aku lagi sedih. Meskipun kadang malah membuatku makin sebel dan dia jadi sasaran tinju dariku.

Tiap hari Idan telpon mengabarkan dia lagi dimana, menanyakan apakah aku baik-baik saja, bagaimana kesehatanku, apakah aku sudah makan atau belum, aku lupa minum susu ibu hamil apa tidak dan banyak hal. Aku biasanya hanya menjawab pendek-pendek saja. Yang kubutuhkan saat itu hanya mendengarkan suaranya saja. Aku sudah senang.

Tanpa Idan yang setiap hari rajin mengurusku aku jadi malas makan dan malas melakukan apa saja. Bukannya aku tak menghargai kerja keras ibuku yang beberapa waktu ini mengurusku tapi sudah kubilang dari awal bahwa bersama Idan akan lain rasanya. Aku sudah terbiasa apapun dengan Idan.

“Ayolah Pit makan. Ibu sudah capek-capek membuatkanmu bubur ayam masak gak disentuh sedikitpun?”

“Belum laper” jawabku sekenanya.

“Tapi nanti kalau kamu gak makan kan kamu sakit? Pikirkan kesehatanmu Pit! Pikirkan anakmu!” Ibu mulai menceramahiku.

“Aku maunya disuapi sama Idan”

“Apa? Idan kan masih di luar kota? Masak ya kamu minta dia balik cepat-cepat hanya buat nyuapin kamu makan? Jangan kekanakan kamu Pit!”

Aku diam saja. Ibu kembali ke dapur sambil ngomel. Beberapa saat kemudian datang lagi sambil bilang alau Idan telpon.

“Halo Pit?” Suara di seberang sana tampak sedang gembira sekali.

“Ya?” jawabku pendek.

“Udah makan? Kata ibu kamu susah makan akhir-akhir ini kenapa? Nanti sakit lho”

“Aku belum lapar. Nanti aja kalau dah lapar. Atau kalau kamu sudah pulang”

“Hah? Jangan main-main kamu Pit. Aku kan masih sebulan lagi baru balik? Sabar dong Pit pangeranmu ini akan segera datang hehe”

Kali ini sama sekali tak lucu. Ya tak lucu.

***

Kondisi kesehatanku semakin buruk. Aku semakin susah makan dan minum vitamin. Ibu jadi makin kerepotan mengurusiku yang makin rewel seperti bayi. Berkali-kali ibu telpon Idan dan Idan membujukku tapi tak satupun bujukannya kuhiraukan. Yang kumau sekarang adalah dia ada disini sekarang.

Paginya aku mengalami demam tinggi. Ibu panik dan menelpon dokter. Setengah tak sadarkan diri samar-samar kudengar ibu juga menelpon keluarga di rumah buat minta bantuan segera.

Rasanya kesadaranku semakin memudar. Kurasakan nyeri yang teramat sangat di perut bagian bawahku. Sesuatu yang panas membasahi rok dan sprei tempatku terbaring. Dan selanjutnya gelap…

***

(Bersambung ke Part 7)
Read Comments